Keluhan Konsumen McLaren Tentang SUV dan Mobil Listrik

Keluhan Konsumen McLaren Tentang SUV dan Mobil Listrik

Keluhan konsumen McLaren mulai menjadi masalah besar manakala mereka menyerbu email sang owner mengenai keresahan atas lini terbaru di segmen SUV maupun mobil listrik. Boleh kita bilang bahwa tren dunia otomotif saat ini sedang gencar sekali mengedepankan penjualan mobil listrik karena ingin merebut hati pasar dengan embel-embel peduli lingkungan alias go green.

Sementara terlepas daripada itu, mobil konvensional berbahan bakar minyak bumi terus memfokuskan diri pada segmen SUV alias Sport Utility Vehicle. Jenis ini sedang naik daun karena terasa lebih gagah, bertenaga, dan mampu melibas berbagai macam medan jalanan dengan ketangguhannya.

Keluhan Konsumen McLaren Tentang SUV dan Mobil Listrik

Karena kapasitasnya lega, SUV juga sering menjadi alternatif mobil keluarga dan malah beralih fungsi layaknya mobil niaga perkotaan. Tak sesuai dengan namanya, justru SUV di Indonesia jarang sekali main kubangan maupun hutan belantara, serta lebih suka disayang-sayang oleh pemiliknya rajin masuk salon mobil.

Makanya kita tidak perlu heran apabila sejumlah pabrikan mobil raksasa kelas low entry seperti misalnya Toyota, Honda, Suzuki, dan sebagainya berlomba merebut pasar SUV. Saking seksinya, bahkan pabrik bereputasi tinggi seperti BMW, Mercedes-Benz, serta kini Lamborghini ikut-ikutan berniat memproduksi SUV dan menambah lininya.

Keluhan Konsumen McLaren Agar Jangan Mengikuti Arus

Untungnya, Mike Flewitt selaku CEO dari merk ternama McLaren memilih untuk tetap berpegang teguh pada prinsip dan tetap fokus di jalur hypercar. Ia menerima banyak keluhan konsumen McLaren yang khawatir bahwa suatu hari nanti pabrik mereka akan latah dan serakah hingga terjun ke segmen SUV yang mulai jenuh dan membosankan.

Mayoritas pemilik mobil McLaren menyatakan keberatan dan menolak apabila pabrik itu sampai mengeluarkan jenis EV ataupun SUV. Berita ini disampaikan sendiri oleh sang CEO Mike Flewitt dalam sebuah wawancara oleh sejumlah awak media beberapa waktu lalu, berujar bahwasanya McLaren selalu mengedepankan kepuasan konsumen.

Keluhan Konsumen McLaren Agar Jangan Mengikuti Arus

Perusahaan tersebut punya budaya unik karena hampir setiap konsumen punya email pribadi milik Flewitt dan bisa langsung menyampaikan keluhan secara personal. Berkat cara main seperti itu pula, Flewitt selalu dapat responsif dalam membuat keputusan sekaligus menyenangkan konsumen karena ikut dilibatkan dalam setiap kebijakan perusahaan walaupun tidak memberikan pengaruhnya secara langsung.

Cukup banyak misi perusahaan yang merupakan hasil dari jajak pendapat konsumen via email pribadi ke Flewitt. Salah satunya sebut saja seperti penerapan prinsip bahwa McLaren berjanji akan selalu memproduksi mobil andalannya dalam jumlah sedikit demi menjaga eksklusifitas.

Pelanggan Tidak Merestui Apabila Pabrikan Punya Model Beragam

Keluhan konsumen McLaren memang seharusnya tidak diabaikan begitu saja karena notabenenya mereka berasal dari keluarga konglomerat. Dengan kata lain, ucapan maupun tindakan mereka sangat berpengaruh dan dapat berdampak buruk bahkan menjatuhkan kredibilitas perusahaan apabila aspirasinya tidak didengar.

Para taipan kaya ini cukup gusar melihat pabrikan besar seperti Lamborghini, Ferrari, Aston Martin, bahkan Lotus dan Porsche, semuanya terjun ke pasar SUV. Mereka juga gerah melihat kehadiran mobil listrik EV yang dianggap barang prototipe tapi sudah berani dipasarkan secara massal, mirip sebuah penghinaan seakan-akan konsumen tidak menyadari hal tersebut.

Keluhan Konsumen McLaren Tidak Merestui Apabila Pabrikan Punya Model Beragam

Sebagai jawaban atas keresahan yang ada, Mike Flewitt mengeluarkan pernyataan resmi bahwa McLaren tidak akan memproduksi EV Car dalam tempo singkat. Kendati demikian, perusahaan bukannya tutup mata dan menuruti pelanggan 100% karena sejatinya sudah tersedia divisi pengembangan PHEV Car beberapa waktu ke depan.

Karena bagaimanapun juga, menyelamatkan lingkungan adalah kewajiban seluruh umat manusia termasuk produsen hypercar seperti McLaren sekalipun. Jangankan mereka, bahkan mahasiswa Indonesia saja sudah berhasil membuat inovasi bahan bakar mobil dari sampah plastik supaya dapat mengurangi polusi lingkungan yang diakibatkan olehnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *